Dulu, banyak orang yang mengucapkan Home Sweet Home, untuk menunjukkan bahwa rumah mereka adalah tempat terindah dan ternyaman bagi jiwa penghuninya. Orang juga berkata bahwa rumah merupakan tempat dimana semua gejolak di luar diredam, keletihan dihapuskan, dan impian-impian dirajut. Rumah adalah tempat semestinya memberikan rasa aman bagi anak-anak, rasa cinta bagi ibu-ibu dan rasa puas bagi para ayah. Tetapi, manusia telah merusak sendiri apa yang selama ini dinikmatinya.
Banyak rumah bukan lagi sorga di bumi, tetapi telah berubah menjadi neraka yang mengerikan bagi penghuninya. Rumah tidak lagi memberi rasa aman. Rumah tidak lagi menjadi tempat memupuk kasih, bahkan tidak lagi bisa melantunkan tembang-tembang impian orang tua. Saat rumah telah begitu porak-poranda, maka penghuninya pun tercerai berai. Mereka tak bisa dibubarkan karena sadar bahwa bagaimanapun mereka adalah keluarga, namun untuk disatukan ternyata menimbulkan berbagai luka yang memedihkan. Korbanpun berjatuhan, manakala si jahat mempergunakan situasi ini untuk menawarkan jalan keluara bagi semua anak-anak yang tak berinduk lagi.
NAPZA, suatu alternatif mematikan itu ternyata telah menjadi pilihan salah banyak anak-anak kita. Akankah kita hanya berpangku tangan menyaksikan keruntuhan suatu bangsa yang dengan korban begitu besar telah dibangun? Anak-anak kita perlu memiliki surga rumah mereka lagi. Beri mereka surga rumah itu atau kita akan melihat kehancuran atas suatu bangsa yang besar.
Saya bersyukur, Rumah Damai memahami panggilan itu. Konsep keluarga yang dikembangkan terbukti telah memberikan perteduhan bagi begitu banyak anak-anak muda kita. Inilah yang Firman Tuhan katakan : "Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi hingga musnah." (Maleakhi 4:6)
"Sungguh Engkau telah menjadi tempat perlindunganku, menara yang kuat terhadap musuh. Biarlah aku menumpang di dalam kemah-Mu untuk selama-lamanya, biarlah aku berlindung dalam naungan sayap-Mu!" (Mazmur 61:4,5)
Aku mempunyai 2 orang anak, semuanya laki-laki. Tak pernah terbayangkan dalam pikiranku maupun suamiku bahwa putra sulung kami suatu saat akan terjerumus dalam pemakaian obat-obat terlarang.
Kehidupan kami sekeluarga pada awalnya damai dan tenteram. Suamiku mantan Seminaris. Tentu saja ia telah mengalami pendidikan yang cukup keras selama masa pendidikan di Seminari. Aku sendiri berasal dari keluarga yang dididik secara kebarat-baratan oleh kedua orang tuaku.
Ayahku menjadi seorang guru di jaman Belanda, kemudian menjadi guru di sebuah sekolah negeri di Semarang. Dan pastinya akupun mendapat didikan yang cukup keras dari kedua orang tuaku. Aku dan suamiku sudah melakukan segala daya upaya untuk bisa menyembuhkan anak kami. Mulai dari pengobatan-pengobatan yang harganya luar biasa sampai ke panti rehabilitasi. Namun semua itu gagal total, bahkan anak kami makin kelihatan tambah parah.
Suatu saat aku kedatangan serombongan teman-teman dari gereja, rupanya mereka mengetahui kasus yang kami alami dan mencoba mencarikan jalan keluarnya melalui kesaksian seorang ibu yang mengalami kasus yang sama dan putranya saat itu berada di Rumah Damai. Kami mengambil keputusan untuk mencoba alternatif ini, Betapa sulitnya untuk meyakinkan putraku untuk hijrah ke Rumah Damai!!!
Dengan berbagai dalih, dia tetap bertahan sementara itu aku sendiri didorong keyakinanku bahwa inilah jalan keluar yang ditujukkan TUHAN kepada kami dan kami mulai menghubungi Bapak Muljadi Irawan selaku pengasuh Rumah Damai di Semarang.
Berbagai pertanyaan timbul dalam benak kami, apakah diperbolehkan merokok dan memakai obat penenang dan sebagainya aku tanyakan. Bapak Muljadi sungguh terbuka tentang penanganan yang dilakukan kepada anak-anak yang terkena Narkoba ini. Semua kegiatan diarahkan ke gereja, tidak diperbolehkan merokok atau mempergunakan obat penenang.
Anak-anak diperlakukan dengan penuh cinta kasih,sebagaimana Yesus juga memperlakukan kita. Mereka diajak supaya mau bertobat dan mendekatkan diri kepada TUHAN, rajin membaca dan membahas alkitab. Di samping kegiatan rohani, mereka juga diajak berolahraga supaya fisik mereka juga terpelihara.
Tak lupa anak-anak diajak berekreasi sebulan sekali, sungguh lengkap pemulihan yang dilakukan di Rumah Damai ini, rohani maupun jasmani terpelihara. Kami berdua sungguh bersyukur kepada TUHAN atas kesembuhan yang dialami putra kami di Rumah Damai.
TUHAN melalui tangan-tangan keluarga Bapak Muljadi dan stafnya telah menyembuhkan putra kami. Dia yang dahulu susah sekali diajak ke gereja, kini berkobar-kobar semangatnya dalam pelayanan. Dia yang dahulu tidak pernah membaca alkitab, kini ikutan dan bahkan telah menyelesaikan TSOA (The Scholl of Acts).
Betapa besar kuasa Tuhan!!! Ia dapat melakukan hal-hal yang bagi kita sungguh mustahil asal kita mau mebuka hati kita. Kami mengucap syukur kepada TUHAN karena kini anak kami telah menyelesaikan masa pembinaannya di Rumah Damai.
Rasa syukur ini kami wujudkan dengan memberi kesaksian kepada para orangtua yang mengalami kebingungan dalam menangani anak-anak yang terjerumus dalam pemakaian narkoba. Terima kasih TUHAN, karena Engkau telah menyelamatkan anak kami. Terima kasih pula atas karya-karya-Mu melalui keluarga besar Rumah Damai yang juga telah membina anak-anak muda yang lain. Semoga Rumah Damai dapat melahirkan lebih banyak orang yang mau melayani di bidang ketergantungan obat-obatan terlarang. Amin.
KESAKSIAN ANDREAS EDMOND PIETERSZ
Nama saya Andreas Edmond Pietersz. Umur saya 30 thn dan saya berasal dari Jakarta.
Saya anak ke-3 dari ketiga bersaudara. Hubungan saya dengan anggota keluarga yang lain kurang harmonis dikarenakan kepahitan yang saya alami di keluarga sejak saya masih kecil.
Sejak kecil saya selalu merasa diperlakukan tidak adil oleh kakak2 saya. Karena saya tidak pernah bisa membalas maka itu setiap kali saya dihina dan disakiti saya cenderung untuk diam dan dipendam dalam hati sambil menunggu kesempatan untuk saya bias balas ke kakak2 saya.
Kesempatan itu muncul ketika saya kelas 1 SMP. Waktu itu orang tua saya bercerai dan saya pakai kesempatan itu untuk saya membalas semua sakit hati saya. Saya mulai berubah dalam karakter saya. Saya mulai merokok dan beberapa hari setelahnya saya langsung mencoba menghisap ganja.
Di sekolah saya mulai sering membolos dan berkelahi. Dan itu terus saya lakukan sampai saya kelas 3 SMA. Hari2 itu hidup saya semakin tidak bisa dikontrol. Keluarga saya sepertinya sudah tidak bisa menasihati saya. Saya hari2 itu menikmati sekali menjadi anak bandel sehingga hidup saya makin dipenuhi dengan hal2 yang tidak baik seperti seks bebas dan mabuk2an setiap hari.
Ketika putau ditawarkan buat hidup saya, tanpa berpikir panjang saya langsung mencobanya karena saya berpikir mencoba tidaklah parah. Di kemudian hari saya baru sadar bahwa mencoba narkoba sekali berarti akan ada langkah berikutnya untuk masuk lebih dalam lagi menjadi pecandu putau.
Dan dikarenakan kebutuhan uang yang banyak dan saya tidak kuliah maka itu saya menghalalkan segala cara untuk bisa beli putau. Dimulai dari menjual barang-barang pribadi saya sampai saya mulai mencuri uang kakak saya. Ketika akhirnya keluarga saya makin kecewa, mereka mengusir saya dari rumah. Dan hal itu tidak membuat saya kapok.
Saya semakin tidak bisa mengkontrol kecanduan saya sehingga saya tetap menghalalkan segala cara untuk bisa beli putau. Saya memberanikan diri untuk mencuri di rumah orang lain. Dan itu terus saya lakukan kurang lebih 4 bulan sampai akhirnya saya kembali ke rumah dan meminta ayah saya membawa saya ke rumah sakit ketergantungan obat. Saya dirawat selama 5 hari tapi tetap tidak bisa mengatasi kecanduan saya.
Akhirnya hidup saya keluar masuk rehabilitasi sampai awal tahun 2000 saya dibawa ke Rumah Damai. Di tempat itu saya ditemukan kembali oleh anugrah Tuhan. Tidak hanya Tuhan menyembuhkan kecanduan saya tapi juga Tuhan menyembuhkan luka hati saya dengan keluarga saya.
Hubungan kami hari ini sangat harmonis dan saling mendukung. Dan juga Tuhan memberi kesempatan kepada saya untuk melayani Dia lewat talenta yang telah Dia beri. Hari ini saya sudah 9 tahun berhenti merokok dan narkoba dan hari ini saya dedikasikan hidup saya seutuhnya hanya untuk cinta Tuhan. AnugrahNya telah menemukan saya kembali.
Langkah Pemulihan :
- Kami mengakui bahwa kami tidak berdaya terhadap kecanduan dan hidup kami menjadi kacau.
- Kami percaya bahwa TUHAN yang memulihkan.
- Kami mengambil keputusan untuk berbalik dari kehidupan yang kacau kepada TUHAN.
- Membuat daftar inventaris moral atas segala kelemahan dan dosa kami.
- Mengakui kepada TUHAN, diri sendiri dan minimal 1 (satu) orang atas segala kelemahan dan dosa kami.
- Minta TUHAN angkat semua karakter kami yang rusak/jelek.
- Berdoa dan minta TUHAN angkat semua kekurangan kami di masa lalu.
- Buat daftar orang yang pernah kita lukai dan berjanji untuk berdamai.
- Buat perdamaian secara langsung tanpa diwakilkan sejauh keadaan memungkinkan.
- Terus adakan evaluasi pribadi, jika ada kesalahan segera akui tanpa ditunda.
- Kembangkan terus hubungan pribadi dengan TUHAN melalui doa dan firman TUHAN, agar kita mengerti kehendak-NYA dan kuasa-NYA melepaskan kita.
- Membagikan pengalaman rohani ini kepada orang lain, terutama para pecandu dan menerapkan seluruh prinsip ini dalam hidup kita.
CATATAN TAMBAHAN:
Pecandu disini berarti pecandu obat-obatan, narkotika, alkohol, judi, seks dll, yang sifatnya mengikat.
